WASPADA TSUNAMI



Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan pesisir pantai selatan Provinsi Banten masuk dalam kategori rawan gempa bumi dan tsunami.
"Kami terus meningkatkan pemahaman kepada masyarakat untuk mengurangi resiko kebencanaan agar tidak menimbulkan korban jiwa," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKGJakarta Muhammad Riyadi saat acara "Gladi Ruang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Penguatan UPT BMKG dan BPBD" di Hotel Aston, Anyer, Banten, Senin (28/3/2016)..
Kegiatan Ruang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Penguatan UPT BMKG dan BPBD dihadiri dari perwakilan kelompok BPBD,TNI/POLRI,Camat/lurah/desa,sekolah,SKPD dan media.

Saat ini, pantai Selatan Banten berpotensi gempa bumi dantsunami karena letaknya berada pada pertemuan tiga lempeng/kerak bumi aktif.
Ketiga lempeng aktif tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian timur.
Potensi gempa bumi dan tsunami cukup berpeluang di wilayah pesisir Selat Sunda Provinsi Banten.
Selain itu juga potensi gempa bumi dan tsunami terjadi pesisir Aceh, Padang, Sumatera Selatan, Selat Sunda dan selatan Pulau Jawa.
Untuk itu, pesisir selatan Provinsi Banten berpotensi gempa bumi dan tsunami mulai pesisir pantai Merak, Cigading, Anyer, Carita, Panimbang, Sumur, Binuangeun, Malingping, Bayah hingga perbatasan dengan Sukabumi.
"Kami minta warga pesisir selatan Banten tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa dan tsunami untuk meminimalisasi korban jiwa," katanya menjelaskan.
Menurut dia, sejauh ini ilmu pengetahuan teknologi juga peralatan secanggih apapun belum mampu mendeteksi secara persis waktu terjadinya gempa dan tsunami.
Karena itu, pihaknya berharap peringatan dini gempa dan tsunami harus secepatnya dilakukan sehingga masyarakat pesisir pantai selatan Banten bisa terselamatkan dari bencana tsunamitersebut.
Penyelamatan membutuhkan waktu selama 10 menit setelah terjadi gempa, sehingga korban tidak berjatuhan.
"Kita prihatin gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 lalu menewaskan ratusan ribu orang, perumahan, jalan dan jembatan serta kerugian Rp 45 triliun akibat ketidaktahuan pemahaman masyarakat terhadap bencana tsunami itu," katanya.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Jakarta Daryono mengatakan pesisir Selat Sunda Banten rawan gempabumi dan tsunami, karena letaknya pada pertemuan tiga lempeng/kerak Bumi aktif.
Ketiga lempeng aktif tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian timur.
Potensi gempa bumi dan tsunami cukup berpeluang di wilayah pesisir Selat Sunda Provinsi Banten.
Karena itu pihaknya meminta masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko kebencanaan agar tidak menimbulkan korban jiwa dengan jumlah banyak.
"BMKG sebagai penyedia informasi terus mengoptimalkan sosialisasi dan penguatan kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami kepada masyarakat," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, Nana Sukmana Kusuma mengatakan saat ini di daerahnya yang masuk potensi gempa bumi dan tsunami di Kecamatan Anyar dan Cinangka.
Masyarakat yang tinggal di pesisir selatan itu diharap tetap meningkatkan kewaspadaan guna menghindari korban jiwa.
Untuk mencegah risiko korban bencana alam, pihaknya sudah beberapa kali menggelar simulasi tsunami di pesisir selatan Lebak.
Pelaksanaan simulasi tersebut juga upaya penyemalatan dengan lima titik jalur evakuasi sehingga masyarakat pesisir, aparat desa dan kecamatan mampu menyelamatkan resiko pengurangan kebencanaan.
Kegiatan simulasi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang langkah pencegahaan bencana alam itu tidak menimbulkan korban jiwa.
Masyarakat pesisir disebutnya harus secepatnya menyelamatkan diri ke dataran tinggi jika gelombang tsunami terjadi.
"Kami terus mengoptimalkan sosialisasi kepada masyarakat pesisir agar mampu menyelamatkan diri jika terjadi tsunami," katanya. 
# SUMBER http://wartakota.tribunnews.com
Lebih baru Lebih lama